Contoh Barbagai macam Vandel, silahkan klik disini
Contoh Berbagai macam Gordon Wisuda klik disini
Contoh Bendera dan Umbul-umbul klik disini
Contoh Undangan klik disini
Contoh ID Card tebal seperti ATM klik disini
Google Map Murni print klik disini

Kontak kami : SMS - WA: 085 235 1925 36 BBM: 7698AE4A
Pembayaran Pesanan dan DP bisa via BRI, BNI, BCA, CIMB Niaga dan Mandiri
Masuk ke TokoPedia Murni Print klik disini
Masuk ke Facebook Murni Print klik disini
-------------------
Cara Menambah Penghasilan dari Blog Gratis-tis klik disini
Lihat TV lokal
Beli Pulsa Automatis CEPAT 24 Jam klik disini atau ingin usaha PPOB Jual pulsa elektrik Daftar Gratis di Bebas Bayar Gratis tapi Dahsyat
Solusi Transaksi online / Bayar dengan uang elektrik klik disini

Permisi Agan..... Ada Info penting

Ini Blog Pribadi yang Berisi Artikel-artikel penting (bagi saya), Baik Tulisan saya sendiri maupun dari berbagai Sumber, Semoga Manfaat Juga Untuk teman-teman yang membutuhkan

14 November 2011

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGARTIKAN MUFRADAT DALAM MATA PELAJARAN QUR’AN HADITS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE – A MATCH PADA SISWA KELAS VIII MTS NEGERI TENGGARONG.


A. Latar belakang Masalah

Empat (4) kegiatan pokok dalam PBM Qur’an Hadits adalah: membaca, mengartikan, menulis dan menghafal ayat-ayat yang menjadi pokok bahasan. Keempatnya sinergis dan integratif.. Kemampuan mengartikan mufradat dalam mata pelajaran Qur’an Hadits bagi siswa kelas VIII MTs Negeri Tenggarong ternyata relatif rendah. Rendahnya penguasaan ini terdata dari prestasi ulangan harian dimana hanya 50% siswa yang mampu mengartikan mufradat secara tepat/baik. Rendahnya pengartian mufradat ini juga mengindikasikan rendahnya penguasaan materi pelajaran secara keseluruhan.
Faktor-faktor yang menyebabkannya antara lain: (a) Latar belakang pendidikan siswa sebelumnya. Pengamatan sepintas mengindikasikan bahwa kemampuan mengartikan mufradat bagi siswa yang berasal dari SD lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang berasal dari MI; (b) Metode pembelajaran, khususnya dalam hal pengartian musfradat. Metode konvensional dalam pengartian mufradat dilakukan dengan menerjamahkan /mengartikan secara keseluruhan ayat tertentu yang menjadi pokok bahasan, kemudian siswa berusaha mengartikan mufradat yang terdapat dalam ayat yang menjadi pokok bahasan tersebut. Model pengartian konvensional lainnya yaitu penerjemahan mufradat berdasarkan kelompok kalimat, kemudian dihapalkan, sehingga membuat siswa merasa sulit dan berat untuk dapat mengartikan mufradat yang terdapat dalam mata pelajaran qur’an hadis.
Dari latarbelakang masalah ini perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan penguasaan mengartikan mufradat tanpa memandang latarbelakang pendidikannya dan perlu dirumuskan metode lain yang kondusif dan menyenangkan dalam pemahaman arti yang dikandung ayat-ayat Al Qur’an. Sehingga memudahkan siswa untuk menterjemahkan mufradat yang terdapat dalam mata pelajaran qur’an hadis.

B. Indentifikasi Masalah

Memerhatikan situasi di atas, kondisi yang ada saat ini adalah :
1. Rendahnya kemampuan siswa dalam mengartikan mufradat qur’an hadis.
2. Rendahnya penguasaan materi qur’an hadis.
3. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat.
4. Rendahnya prestasi siswa untuk mengartikan mufradat secara tepat.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana menerapkan pembelajaran model kooperatif dengan tipe make – macth agar dapat meningkatkan kemampuan mengartikan mufradat dalam mata pelajaran qur’an hadis.
2. Apakah penggunaan pembelajaran model kooperatif dengan tipe make – macth agar dapat meningkatkan kemampuan mengartikan mufradat dalam mata pelajaran qur’an hadis.

D. Cara Memecahkan Masalah

Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam PTK ini, yaitu model pembelajaran kooperatif dengan tipe make – macth. Dengan model pembelajaran ini, diharapkan kemampuan siswa dalam mengartikan mufradat dalam mata pelajaran qur’an hadis meningkat.

E. Hipotesis Tindakan

Penelitian ini direncanakan terbagi ke dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus tersebut dapat diamati peningkatan kemampuan mengartikan mufradat dalam mata pelajaran qur’an hadis. Dengan demikian, dapat dirumuskan hipotesis tindakan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran tipe make – macth, dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengartikan mufradat dalam mata pelajaran qur’an hadis.

F. Tujuan PTK

1. Guru dapat meningkatkan strategi dan kualitas pembelajaran.
2. Siswa merasa mudah dan senang untuk mengartikan mufradat ayat al-qur’an dan hadis.
3. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengartikan mufradat ayat al-qur’an dan hadis.
4. Meningkatkan penguasaan materi pelajaran oleh siswa.
G. Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat dari penelitian ini antara lain:
1. Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvensional dalam pengertian mufradat.
2. Memudahkan siswa dalam penguasaan arti tiap mufradat.
3. Memudahkan guru dalam PBM Qur’an Hadits.
4. Mengoptimalkan penguasaan materi pelajaran Qur’an Hadits




BAB II
KAJIAN TEORI

A. Hakekat Model Pembelajaran Koopertif ((Cooperative Learning)

Hakekat Model Pembelajaran akan dibahas dalam beberapa bagian yakni pembelajaran kooperatif, unsur-unsur pembelajaran kooperatif, perbedaan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran tradisional dan pentingnya pembelajaran kooperatif.

1. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan.

2. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif

Unsur-unsur pembelajaran kooperatif paling sedikit ada empat macam yakni saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual dan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi.
a. Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan antar sesama. Dengan saling membutuhkan antar sesama, maka mereka merasa saling ketergantungan satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui: (1) saling ketergantungan pencapaian tujuan; (2) saling ketergantungan dalam menyelesaikan pekerjaan; (3) ketergantungan bahan atau sumber untuk menyelesaikan pekerjaan; (4) saling ketergantungan peran.
b. Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Dengan interaksi tatap muka, memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar, sehingga sumber belajar menjadi variasi. Dengan interaksi ini diharapkan akan memudahkan dan membantu siswa dalam mempelajari suatu materi atau konsep.
c. Akuntabilitas individual
Meskipun pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, tetapi penilian dalam rangka mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu materi pelajaran dilakukan secara individual. Hasil penilian secara individual tersebut selanjutnya disampaiakn oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, oleh karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok. Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.
d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Melalui pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif menekankan aspek-aspek: tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik orangnya, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat positif lainnya.
Sedangkan menurut Muslimin Ibrahim, dkk (2000), unsur-unsur pembelajaran kooperatif adalah: (1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama”; (2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya; (3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; (4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya; (5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok; (6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama; (7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
2. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional
Dalam pembelajaran tradisional juga dikenal belajar kelompok. Meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan prinsipil antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional. Abdurrahman dan Bintaro, (2000 dalam Nurhadi, 2003) mengemukakan beberapa perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional sebagai berikut.

Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional
Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya “enak-enak saja” di atas keberhasilan temannya yang dianggap “pemborong”.
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Kelompok belajar biasanya homogen
Ketua kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok Ketua kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih ketuanya dengan cara masing-masing
Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung
Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai) Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas
Sumber: Nurhadi (2003)
3. Pentingnya Pembelajaran Kooperatif
Hasil penelitian melalui metode meta-analisis yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson (1984 dalam Nurhadi, 2003) menunjukan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif , yakni:
(1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial
(2) Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati
(3) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan
(4) Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan
komitmen
(5) Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
(6) Menghilangkan sifat mementingkan disi sendiri atau egois dan egosentris
(7) Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan
(8) Dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan
terintegrasi
(9) Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa
(10) Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan
(11) Mencegah terjadinya kenakalan di masa remaja
(12) Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja
(13) Berbagai keterampilan social yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan
(14) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesame manusia
(15) Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai
perspektif
(16) Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup
(17) Meningkatkan keyaakinan terhadap ide atau gagasan sendiri
(18) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih
baik
(19) Meningkatkan motivasi belajar
(20) Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan
kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama dan orientasi tugas
(21) Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan slaing menjaga perasaan
(22) Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar
(23) Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong
(24) Meningkatkan kesehatan psikologis
(25) Meningkatkan sikap tenggang rasa
(26) Meningkatkan kemampuan berfikir kreatif
(27) Memungkinkan siswa mampu merubah pandangan klise dan stereotif
menjadi pandangan yang dinamis dan realistis
(28) Meningkatkaan rasa harga diri (self esteem) dan penerimaan diri (self
acceptance)
(29) Memberikan harapan yang lebih besar bagi terbentuknya manusia dewasa yang mampu menjalin hubungan positif dengan sesamanya, baik di tempat kerja maupun di masyarakat
(30) Meningkatkan hubungan positif antara siswa dengan guru dan personel
sekolah
(31) Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penunjang keberhasilan akademik tetapi juga perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi
(32) Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik
Menciptakan suasana belajar kooperatif bukan suatu pekerjaan mudah, tetapi diperlukan pemahaman filosofis dan keilmuan yang cukup disertai dedikasi yang tinggi serta latihan yang serius dan terus menerus.

B. Stategi pembelajaran tipe Make – A Macth
Dari sekian banyak strategi pembelajaran yang telah ada, salah satunya adalah Tipe Make – A Macth (mencari pasangan). Tipe ini dikembangkan oleh Lorna Curran, 1994. Strategi ini cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan, siswa diberi tugas mempelajari topic yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan.
Langkah-langkah Stategi pembelajaran tipe Make – A Macth adalah :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa potongan-potongan ayat, sebaliknya satu bagian kartu yang berisi arti dari potongan-potongan ayat tersebut.
2. Guru menyampaikan materi pelajaran.
3. Setelah kartu yang berisi potongan-potongan ayat dan artinya dikocok, guru membagi kartu-kartu tersebut kepada seluruh siswa sehingga masing-masing siswa memegang satu kartu. Sebagian siswa ada yang memegang kartu yang berisi potongan ayat, sedangkan sebagian yang lain memegang kartu yang berisi arti dari potongan-potongan ayat tersebut.
4. Tiap siswa memikirkan potongan ayat atau arti dari kartu yang dipegang
5. Kemudian siswa diberi waktu untuk siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan     kartunya (potongan ayat atau artinya)
6. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi nilai.
7. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
8. Demikian seterusnya
9. Kesimpulan/penutup
6. Kerangka Teoriti dan Hipotesis
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda dari mapel lainnya. Hal ini disebabkan obyek formal dan obyek material masing-masing mapel juga berbeda. Adanya perbedaan ini menuntut diversivikasi penggunaan metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat sesuai karakteristik mapel, akan mengoptimalkan penguasaan materi pelajaran secara keseluruhan.
Sebagaimana difahami Al Qur’an terstruktur : kitab > Juz > Surat > ayat > kalimat/kata > huruf. Yang menjadi obyek pembelajaran mapel Qur’an Hadits adalah “ayat”, di mana ia tersusun atas kalimat/kata dan huruf. Untuk memahami mana yang dikandung oleh suatu ayat, siswa harus mengetahui artinya secara keseluruhan dan utamanya kalimat/kata yang membentuk ayat terkait.
Bla……bla…..bla…..
Dari kerangka teoritik di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan: dengan menggunakan metode alternatif, kemampuan siswa dalam mengartikan mufradat dapat ditingkatkan sekurang-kurangnya 80% dari mufradat yang terdapat dalam setiap pokok bahasan.

7. Rencana Penelitian

a. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap siswa Kelas IF MTs Negeri Winong pada Semester I Tahun Pelajaran 2003-2004. Kelas ini dijadikan setting penelitian dengan beberapa pertimbangan:
1) Siswanya secara keseluruhan berlatar pendidikan Sekolah Dasar.
2) Siswa kelas IF merupakan kelompok siswa kelas I dari Sekolah Dasar yang memiliki NEM tinggi untuk PSB MTsN Tahun Pelajaran 2003-2004.
3) Kemampuan membaca Al Qur’an relatif baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Hal ini dikarenakan kebanyakan siswanya waktu SD telah mengikuti Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ).
b. Variabel yang diteliti
1) Variabel siswa: yaitu kemampuan dalam mengartikan mufradat pada mapel Qur’an Hadits.
2) Variabel guru: metode yang digunakan dalam PBM Qur’an Hadits, cq model pengartian mufradat.
c. Rencana Tindakan
Penelitian ini direncanakan berlangsung dalam 1, 2 atau 3 siklus sampai diperoleh hasil yang maksimal. Apabila siklus 1 telah berhasil memecahkan persoalan penelitian dinyatakan selesai. Namun jika siklus 1 belum mampu memecahkan persoalan utama maka penelitian dilanjutkan pada siklus 2 dan seterusnya.
Setiap siklus dilakukan langkah-langkah: (1) perencanaan (2) pelaksanaan tindakan (3) observasi (4) refleksi. Dari fefleksi siklus 1 akan dapat ditentukan apakan penelitian ini dilanjutkan dengan siklus 2 atau tidak.
d. Data dan Cara Pengumpulannya
Dalam pengumpulan data untuk penelitian ini ditempuh dengan menggunakan beberapa metode, yaitu: (1) tes tertulis (2) tes lisan (3) angket (4) wawancara dan (5) dokumentasi.
e. Idikator Kerja
Penelitian ini dikatakan berhasil apabila penerapan metode alternatif mampu meningkatkan kemampuan siswa Kelas IG dalam mengartikan mufradat sebesar 80%.
f. Tim Peneliti dan tugasnya (terlampir).
8. Jadual Penelitian.
9. Rencana Anggaran.
10. Daftar Pustaka.
11. Lampiran-lampiran

INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen : > Metode pengumpul data > Alat pengumpul data
A. Jenis Data
2. Fakta (nilai, presensi, dll.) 4. Sikap – pendapat
3. Perilaku 5. Persepsi
4. Kemampuan/prestasi 6. Ketrampilan
B. Metode Pengumpul Data
1. Kuestioner 4. Test
2. Pengamatan/Observasi 5. Wawancara
3. Dokumentasi
C. Alat Pengumpul Data
1. Angket 4. Butir Soal/perintah
2. Lembar pengamatan 5. Pedoman wawancara
3. Format/tabulasi 6. Lembar catatan
HUBUNGAN JENIS DATA DENGAN METODE PENGUMPULAN DATA DATA
MET FAKTA SIKAP PENDAPAT PERSEPSI PENGETAHUAN FILE
Kuestioner P P P P P P
Observasi P P P
Dokemen P
Test P P P
Wawancara P P P P P


Sumber
http://thomakaka.blogspot.com/2010/05/porposal-ptk-quran-hadis.html
Posting Komentar

Pulsa Murah Online 24 Jam

www.opulsa.com

Video HAB ke-64

Powered by TripAdvisor